:: YAYASAN DANA SOSIAL AL FALAH ::
 ((YDSF - HYTV))   Peta Situs Buku Tamu Home
 
profil newsroom layanan program agenda panduan
Berita
  :: Yayasan Dana Sosial Al Falah ::

Feature: Suka duka Baru Rohman Menggelar Pengajian Di Antara Perbukitan

2 Agustus 2007
     

 

Meskipun Islam masuk ke tanah Jawa berpuluh tahun lalu, namun, kondisi itu tak membuat masyarakat di daerah ini mengerti banyak tentang agamanya. Malahan, banyak warganya yang belum bisa shalat serta ibadah lainnya.

Jam menunjukkan angka 12.35 WIB, tanda waktunya dikumandangkan adzan. Bergegaslah salah seorang warga memasuki masjid. Dengan percaya diri, sang muazin melantunkan seruan kepada warga untuk shalat dhuhur. Meskipun sekilas nampak enak didengar, tapi tak dinyana samar-samar ada yang janggal dengan lantunan adzan itu. Ternyata, sang muazin terbalik saat melafalkan bait-bait adzan itu. Kejadian itu bukan hanya sekali itu saja terjadi, namun beberapa kali.

Dalam menjalankan shalat, mereka juga seringkali keliru dalam gerakan dan bacaannya. ”Pernah terjadi suatu ketika salah seorang di antara mereka menjadi imam shalat. Ternyata saat akan membaca bismillahirrohamanirrohim, dia keliru mengucapkan bismillahirrobbil ’alamin,” tutur Baru Rohman sambil tersenyum kepada Al Falah ketika dikunjungi beberapa waktu lalu.

Antara Islam dan Nasrani

Memang belum lama Ustadz Baru -begitu Baru Rohman biasa ia disapa warga- mengembangkan wilayah dakwahnya di Dusun Dileman, Petongroto, Kecamatan Mojo, Kabupaten Kediri, Jatim itu. Tetapi menurutnya, dari sekian tempat dakwah yang pernah ia lalui, Dileman adalah lokasi dakwah paling berat dan menantang. Karena kondisi jalan yang licin 4,5 kilometer harus ditempuh dengan jalan kaki.

Lokasinya tepat berada di lereng gunung Wilis. Atau sekitar 30 kilometer arah barat daya paling ujung Kabupaten Kediri, Jatim. Kondisi daerah yang berada di sisi lembah itu membuat daerah ini seolah terisolasi. Pun jalan terjal naik turun gunung wajib dilalui ketika akan menginjakkan kaki di tempat ini. Mungkin karena daerah seperti itulah yang membuat masyarakatnya agak ketinggalan dibanding daerah lainnya.

Selain berpendidikan rendah ,kondisi masyarakatnya juga tergolong berekonomi lemah. Peluang inilah yang dimanfaatkan sebagai lahan subur pendangkalan akidah. Menurut Ustadz Baru, di desa ini saat ini sudah ada sekitar 2-3 buah gereja yang telah berdiri kokoh. Malahan, kata Baru, beberapa di antara gereja itu diperbesar. Hal itu tak terlepas dari peran warga juga yang setiap kali diadakan perayaan di gereja itu selalu datang.

”Kalau disuruh mengatakan, sebenarnya saya juga bingung. Disebut muslim ya tidak muslim, disebut Nasrani ya juga bukan Nasrani. Tapi KTP mereka Islam,” ujar dai kelahiran 1980 ini. Karena itulah, untuk membentengi warga, Baru Rohman menggandeng beberapa tokoh sekitar untuk terus bisa menggelar taklim. Masjid Al Hidayah adalah satu-satunya masjid setengah jadi dan dipakai menggelar pengajian warga. Di masjid yang berukuran hanya 5x6 meter inilah setiap selesai shalat Jumat seminggu sekali taklim diadakan.

Butuh SDM Dai

Baru Rohman menjelaskan banyak di antara warga yang belakangan mulai belajar shalat dan mengaji. Namun, mereka umumnya para lansia dan orang dewasa. Nanang Hadiprayitno, salah seorang dai lokal yang digandeng Baru Rohman mengatakan awalnya memang kesulitan mengajak warga untuk mendatangi masjid. ”Yang kita coba sekarang adalah meyakinkan masyarakat untuk mau shalat berjamaah lima waktu,” papar Nanang.

Selain di Dusun Dileman, Baru Rohman juga mengisi di 14 taklim lainnya yang tersebar di seluruh Kabupaten Kediri. ”Ke depan kita berharap, dai-dai yang ada ditambah. Karena masih banyak lokasi yang belum tersentuh dan kebanyakan merupakan basis kristenisasi,” pintanya. (foto2 & naskah: Khoirul Anam)

 (Khoirul Anam)


:: Yayasan Dana Sosial Al Falah ::
  | kirim ke teman | versi cetak |  

Berita lainnya >>

 
:: YAYASAN DANA SOSIAL AL FALAH ::
Newsroom
  Berita
 
 
 
 
 

 

:: YAYASAN DANA SOSIAL AL FALAH ::
designed by media JIFISA