Konon, daerah ini dikenal masyarakat Kabupaten Madiun sebagai pusatnya Aboge. Beragam aliran dan kebiasaan menyimpang tumbuh subur di daerah yang terletak di lereng gunung Pandan, berbatasan dengan Kabupaten Bojonegoro, Jatim ini.
Saat pertama kali menginjakkan kaki di daerah ini 16 tahun lalu, Munib Muhaimin tak bisa berpikir banyak. Yang ada di kepalanya hanya, bisakah ia hidup di daerah itu. Dari ketinggian bukit yang mengelilingi daerah tandus itu Munib menerawang jauh membayangkan keadaan desa kecil yang berada di lereng gunung Pandan itu. Maklum, daerah itu memang berada di tengah-tengah hutan, masuk wilayah Kecamatan Saradan Madiun, Jatim. Jauh bila dibandingkan dengan kondisi tempat kelahirannya di Paciran, Lamongan.
Dengan niat untuk berdakwah, langkah kakinya yang kuat membimbingnya menyusuri hutan menuju Desa Sumberbendo. Helaan napas berat Munib cukuplah beralasan bila ditilik kondisi daerah itu. Selain daerahnya minus dan terpencil, menurut ceritanya, desa ini merupakan pusatnya Aboge. Banyak tradisi menyimpang tumbuh bak jamur di musim hujan.
Menurut dai kelahiran 1972 ini, selain berpendidikan rendah, masyarakat terutama orang tua sangat kolot dalam memegang dan menanamkan tradisi itu kepada anak-anak mereka. Semua aktifitas yang ada selalu dikait-kaitkan dengan hitungan atau primbon Jawa. Selain itu, budaya santet-menyantet juga menjadi hal lumrah untuk menyelesaikan masalah.
Sarat Penyimpangan
Menjadi kebiasaan, ketika ada kematian ditunggui sambil digelar judi. Mereka juga meyakini kalau orang mati bisa reinkarnasi. Makanya, dalam beberapa waktu memberikan sesaji bukan hal yang tabu. ”Bahkan, untuk menjaga diri, masyarakat juga masih banyak yang percaya jimat dan aji-aji. Mereka meyakini dengan membawa jimat itu keselamatan diri akan terjaga,” kata Munib. ”Saat itu di sini hanya ada satu masjid dan tak terawat,” tambahnya. Tidak sedikit dari mereka yang merasakan shalat hanya mengganggu pekerjaan. Makanya, ketika adzan menggema, mereka malah memaki-maki dan merasa terganggu tidurnya.
Begitulah kondisi pertama kali dai yang kini telah menjadi warga Desa Sumberbendo itu. Setelah beberapa tahun tinggal dan menikah dengan warga setempat banyak perubahan yang dilakukan. Bersama beberapa warga lainnya, ia menghidupkan masjid, majelis-majelis taklim, serta merintis beberapa sekolah. ”Alhamdulillah, sedikit-demi sedikit sudah mulai ada perubahan, meski kadangkala masih ada penduduk yang ngotot dengan keyakinannya,” tukasnya, sambil memangku putrinya Syarifatul Ula Muhaimin yang baru berumur 7 tahun. Bagi Munib, tentangan dan halangan yang muncul adalah hal lumrah sebagai ujian berdakwah. Yang terpenting, dakwah jalan terus apapun yang akan terjadi.
Pengaruh Saminisme
Kolotnya masyarakat mempertahankan tradisi itu, bagi dai yang telah lama bergabung dengan Dewan Dakwah Islam Indonesia (DDII) itu secara geografis cukuplah beralasan. Letaknya di lereng gunung itu juga bersinggungan dengan Suku Samin. Suku yang melarikan diri ke hutan dari penjajahan Belanda karena tidak mau membayar upeti atau pajak. Suku Samin yang berada di wilayah Ngambon, Kabupaten Bojonegoro ini merupakan pecahan yang tersebar di beberapa hutan lainnya, seperti di Blora, Jateng. Karena menyendiri dan terisolir itulah yang menyebabkan mereka hidup jauh dari dunia keterbukaan dan kemajuan.
Pria lulusan Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah Ngawi, Jatim itu juga menuturkan di kalangan warga saat ini masih ada yang suka kumpul kebo, hingga punya anak. Bagi guru Madrasah Tsanawiyah Al-Amin ini memang berat kondisi masyarakat di desa tersebut. Apalagi empat daerah yang dibina lainnya sangatlah berjauhan. ”Namun, upaya dan keterlibatan semua pihak tetap bisa mengubah itu semua. Saya yakin itu,” tuturnya bersemangat. (naskah:a6/foto:wira)
(Khoirul Anam) |