Mobil operasional YDSF harus terhenti. Untuk menuju ‘negeri di atas awan’ tidak mungkin pakai mobil. Mengendarai sepeda motor pun hanya orang tertentu yang bisa melaluinya. Singkat kata, di suatu hari yang masih cukup pagi, dua orang kru SaTe Qurban YDSF nekad berangkat ke Dusun Kebun Agung, Kecamatan Bendungan, Kabupaten Trenggalek, Jatim, suatu desa yang berada di ketinggian lebih dari 500 meter dari permukaan laut.
Awan demi awan ditembus terus. Hingga nampak suatu perkampungan. Ada orang-orang menenteng cangkul, sabit, kayu, dan juga rumput. Dari balik pepohonan dan hutan, menyembul wajah-wajah ayu berkerudung putih. Banyak sekali jumlahnya. Memang hari itu, warga Kebun Agung punya hajat: pengajian keluarga sakinah sekaligus penyembelihan kambing qurban kiriman donatur YDSF.
Jauh-jauh dari Surabaya, dua ekor kambing dari warga Ngagel Rejo, Surabaya ini telah dinanti-nantikan kelezatannya oleh segenap warga desa. Namun sayang, jumlah tidak sebanding. Meski panitia telah menyediakan 500 buah piring untuk makan siang, ternyata masih kurang. Masih seratusan warga yang belum kebagian. Panitia kelabakan cari pinjaman piring. Untung nasi putihnya masih cukup. Yang repot, kambing qurban YDSF hanya 2 ekor dan harus dibagi rata untuk 600 orang!
Beberapa warga mengucapkan syukur atas kunjungan tim SaTe Qurban YDSF. ”Sungguh Pak! Didatangi saja kami sudah sangat senang. Maklum, jarang-jarang orang kota mau berkunjung ke gubug kami. Jalannya sulit...,” kata Abdurrahman, warga Desa Sidomulyo Pule, Trenggalek sambil tertawa.
Lain lagi dengan Munib Muhaimin, dai yang berdakwah Desa Sumber Bendo, Saradan, Madiun. Hingga tengah malam menjelang shalat Idul Adha beberapa tahun lalu, setelah bersusah-payah Munib baru bisa menyiapkan 2 ekor kambing untuk 5.000-an warga yang jadi binaannya.
Dapat Sapi, Malah Pingsan
Di luar perhitungan Munib, ada sebongkah kabar gembira. Di tengah kegelapan malam, (almarhum) Ainur Rofiq –tim SaTe Qurban YDSF kala itu- seorang diri menembus pekatnya hutan menuju kediaman Munib. ”Ustadz, mohon maaf. Hingga malam terakhir ini YDSF hanya bisa mengirimkan 1 ekor hewan qurban saja,” kata Ainur. ”Alhamdulillah, berarti ada 3 ekor untuk warga desa. Wong, tahun lalu kami hanya dapat 1 kambing,” sambut Munib dengan gembira.
Buru-buru Ainur menyahut, ”Bukan kambing Pak. Kami bawa 1 ekor sapi.” Saking kagetnya, Munib langsung pingsan. Tak terbayangkan, ia dan warga desa akhirnya bisa menikmati daging sapi.
Itulah sekelumit kisah pelaksanaan Program SaTe Qurban YDSF yang berjalan beberapa periode. Meski jumlah hewan qurbannya sering kali tidak sebanding dengan warga desa, namun para relawan tidak berkecil hati, bahkan sebaliknya. Karena, ternyata sambutan warga desa begitu antusias. Semoga antusiasme dan kegembiraan ini terus membahana di pelosok-pelosok desa.{}
(marcomm) |